Laman

Tampilkan postingan dengan label go-jek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label go-jek. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

Kekurangan dari Pemakaian Sistem Ojek Onlin

Suka atau Tidak, Separuh Privasi Anda Sudah Diserahkan
Ilustrasi

Beberapa dari pengguna ojek digital mengaku merasa privasinya terganggu oleh ulah oknum pengendara. Namun tahukah Anda, jika ketika mendaftar jadi pengguna layanan ojek digital, artinya separuh privasi Anda sudah diserahkan.

Menurut penggiat Internet Sehat Donny B.U., tudingan adanya pelanggaran privasi dari oknum pengendara layanan ojek online ini harus dilihat dari dua sisi. Pertama, hal itu tidak bisa dianggap pelanggaran privasi jika si pengguna/konsumen tak merasa itu merupakan pelanggaran. 

Kedua, ketika data pribadi semisal nomor ponsel atau alamat rumah pengguna itu disalahgunakan dan konsumen merasa terganggu maka ini sudah masuk ranah pelanggaran privasi.

"Namun ini sinisme, si pengendara kan dapat data-data pengguna setelah konsumen mendaftar. Artinya pemahaman privasi masyarakat Indonesia rendah banget," kata Donny 

"Konsumen ngeh gak? Sadar gak? Bahwa saat mereka mendaftar itu sudah menaruh setengah privasinya di sana (pada layanan tersebut). Jadi konsumen harusnya sadar, privasi mereka sudah rentan disalahgunakan," lanjutnya.

Jadi dari kasus ini sejatinya bisa diambil dua isu utama. Yakni pengguna yang tak sadar dan tak waspada. Lalu ada kesempatan penyalahgunaan privasi dari data-data yang diberikan konsumen.


Kamis, 27 Agustus 2015

Sukses Dengan Go-Jek, CEO Go-Jek Dirikan Go-Box

GO BOX

Setelah layanan kurir dan ojek motor, Go-Jek akan berekspansi ke layanan sewa truk atau mobil boks untuk pengiriman barang. Layanan tersebut kemungkinan akan diberi nama Go-Box.

Materi promosi yang disinyalir dari Go-Box belakangan sudah banyak beredar di jejaring sosial dan pesan instan, Go-Box disebutkan sebagai layanan angkut dan antar oleh mobil boks, pickup bak, dan truk engkel.

Dalam foto dengan latar warna kuning tersebut, logo Go Box tertera di atas dengan ikon gambar truk berwarna coklat. "Need to Move Something Bigger?" demikian teaser yang dipakai oleh Go-Box.

Materi tersebut juga memuat informasi tentang Pioneer Program, atau program pengenalan layanan Go-Box yang akan berlangsung pada 21 September hingga 4 Oktober mendatang.

Dalam program tersebut, Go-Box menawarkan pengiriman gratis tiga kali, diskon harga pengiriman hingga 50 persen, serta layanan order otomatis dengan penjadwalan.

Sayangnya dalam materi promosi tersebut tidak tertera nomor kontak informasi dari Go-Box.

Go-Box nampaknya akan terintegrasi dengan aplikasi Go-Jek, sebab dalam materi tersebut tertulis bahwa layanan angkut barang tersebut dapat dipesan langsung melalui aplikasi Go-Jek, layanan ojek sepeda motor yang lebih dulu diperkenalkan.

Go-Jek sendiri hingga saat ini belum mengeluarkan keterangan resmi tentang ekspansi Go-Box.


Rabu, 05 Agustus 2015

CEO Go-jek Curhat Sama Pak Jokowi

CEO Go-jek

Pendiri sekaligus chief executive officer (CEO) Go-Jek, Nadiem Makarim, dalam Dialog Komunitas Kreatif di mencurahkan "isi hatinya" ke Presiden Joko Widodo.

Di hadapan Jokowi, Nadiem mengungkap kekhawatirannya terhadap kompetisi yang semakin ketat seiring masuknya pemain-pemain global ke Indonesia. Ditambah lagi para pemain asing itu punya sokongan dana besar hingga ratusan juta dollar AS.

Di sisi lain, ada banyak juga startup Indonesia yang sudah masuk growth stage dan perlu kebebasan menerima investasi baik domestik maupun global. 

Dana tersebut, menurut Nadiem diperlukan untuk mengembangkan diri supaya tak kalah dari pemain asing serta naik ke kelas dunia.

"Pada level tertentu kebebasan itu kita butuhkan, untuk menerima investasi atau memberikan insentif pada investor global supaya mereka datang. Sehingga kita bisa menjadi Uber-nya Indonesia, Alibaba-nya Indonedia atau Google-nya Indonesia," ujar Nadiem dalam dialog yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Selasa (4/8/2015).

Dukungan kepada programer lokal

Nadiem juga berharap pemerintah membuat kebijakan yang mendukung kehadiran pembuat aplikasi (software engineer) berkualitas.

"Kalau kita lihat 5-10 tahun ke depan engineer yang akan semakin on demand dan menjamin income generasi muda adalah software engineer. Mereka adalah pembangun-pembangun gedung masa depan, tapi bentuknya virtual," ujar Nadiem yang bicara mewakili industri e-commerce, aplikasi dan online.

"Kalau saya bisa bikin regulasi, Pak, saya akan mandatory berikan insentif dari SMA ke atas supaya mereka bisa coding atau software development," imbuhnya.

Menurut Nadiem, profesi tersebut akan sangat bermanfaat bagi masa depan Indonesia, terutama seiring tren digitalisasi. Selain itu, dari sisi ketersedian lapangan kerja pun akan semakin banyak sekaligus jadi profesi dengan pemasukan tinggi.

Harapan lainnya, pria lulusan Harvard ini ingin pemerintah benar-benar memahami industri e-commerce, aplikasi dan online yang digelutinya. Misalnya dengan cara memberikan regulasi yang mendukung pertumbuhan industri mereka.

"Kami adalah founder yang level idealisnya cukup tinggi. Kami membuat perusahaan bukan hanya mempertimbangkan laba, tapi juga dampak nasional dan sosial tinggi. Jadi ini berkaitan dengan regulasi," ujarnya.

"Kami merasa bisa self-regulate industri kami. Dan kami harap pemerintah punya mindset berbeda, dari wasit menjadi coach, dari regulator menjadi inkubator, dan dari pengawas menjadi teman," pungkasnya.

Dalam dialog tersebut hadir juga berbagai pegiat industri kreatif, seperti musisi, sutradara, animator, developer, pekerja seni hingga pencipta radio kayu. Mereka yang hadir antara lain Lucky Kuswdi, Yovie Widianto, Raisa, Dewi Lestari, dan Ratna Riantiarno.

Jokowi sendiri hadir didampingi Plt. Gubernur Banten Rano Karno, Menkominfo Rudiantara, Menperin Saleh Husin serta Kepala BEKRAF Triawan Munaf.