Laman

Tampilkan postingan dengan label Asus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Agustus 2015

Dollar Naik, Produsen Asus Malah Gempar Berikan Harga Miring

Zenfone 2

Menguatnya nilai mata uang dollar AS terhadap rupiah, memang akan membuat harga beberapa produk milik Asus naik. Uniknya, malah ada satu perangkat yang akan mengalami penurunan harga, produk tersebut adalah ZenFone 2. 

Secara mendetail, seri ZenFone 2 yang akan mendapatkan pemotongan harga adalah ZE551ML. Ini merupakan perangkat yang telah dilengkapi dengan RAM sebesar 4 GB dan media penyimpanan internal 32 GB.

Selain itu, ia dipersenjatai prosesor Intel Atom quad-core Z3580 2,3 GHz, kamera utama 13 megapiksel, kamera depan 5 megapiksel, dan layar 5,5 inci (1920x1080).

Besarnya pemotongan untuk perangkat tersebut adalah Rp 300.000. Itu artinya, calon konsumen bisa mendapatkan ZenFone 2 dengan harga Rp 3.699.000. Harga awal dari produk tersebut adalah Rp 3.999.000.

Tidak diketahui sampai kapan harga baru tersebut akan berlaku. Namun, menurut bocoran yang didapatkan KompasTekno dari sumber dalam, harga itu kemungkinan akan menjadi banderol harga tetap.

"Kemungkinan, harganya akan permanen," kata sumber yang menolak disebutkan identitasnya, beberapa waktu lalu.

Pemotongan harga itu sendiri diadakan sebagai perayaan keberhasilan Asus meraih posisi kedua di industri smartphone Indonesia.

Hingga tutup tahun 2014, menurut Country Product Leader Asus Indonesia Juliana Chen, Asus berhasil memasarkan lebih dari 1,4 juta unit smartphone di Indonesia.

"Tren ini juga terus meningkat. Di kuartal pertama 2015, Asus masih berada di posisi ketiga. Namun, pada Q2 2015, Asus naik ke posisi kedua dan menguasai 14,91 persen pasar," ujar Juliana

"Bahkan di satu kuartal ini saja, Asus mendekati total penjualan sepanjang tahun 2014 lalu," tambahnya.


Kamis, 27 Agustus 2015

Tablet Asus Resmi Masuk Pasar Indonesia

ZenPad 7.0
 Asus menunjukkan keseriusannya bermain di pasar tablet Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, Asus langsung merilis dua seri tablet terbarunya yang masuk ke keluarga ZenPad 7.0, Kamis (27/8/2015).

Kedua perangkat yang sama-sama memiliki bentang layar 7 inci tersebut masing-masing memiliki nama ZenPad C Z170CG dan ZenPad 370. 

Untuk mudahnya, ZenPad CZ170CG akan disebut sebagai ZenPad C 7.0. Sedangkan sang kakak, Z370 akan disebut sebagai ZenPad 7.0.

"Lahir" bersamaan, kedua perangkat tersebut tidak memiliki perbedaan dari segi desain. Keduanya memiliki ujung yang sedikit membundar dan casing plastik bergaya kulit di bagian belakangnya.

Menurut Pratiwi Winata, Tablet Product Manager Asus Indonesia, sebenarnya ada sedikit perbedaan. ZenPad 7.0 akan hadir dengan desain sedikit lebih premium. Nantinya, ia akan langsung dilengkapi dengan cover kulit, mirip seperti dompet.

ZenPad 7.0

Selain itu, casing bagian belakangnya pun bisa diganti-ganti dengan lima pilihan warna. Ada juga casing yang dilengkapi baterai 3.450 mAh dan audio cover (cover yang dilengkapi speaker 5.1) dengan tambahan baterai 2.500 mAh.

"Untuk ZenPad C 7.0, casing belakangnya tidak bisa diganti," ujar Pratiwi dalam acara peluncuran ZenPad 7 di Jakarta, Kamis (27/8/2015).

Untuk urusan layar, keduanya sama-sama menggunakan layar IPS 7 inci, tetapi dengan dukungan resolusi yang berbeda. ZenPad C 7.0 mendukung resolusi 1.024 x 600 WVGA dan ZenPad 7.0 mendukung 1.280 x 800 piksel WXGA.

Kedua layar tersebut memiliki sudut penglihatan sebesar 178 derajat. "Pengguna bisa melihat gambar dengan lebih jelas dari berbagai arah," tutur Pratiwi.

Dari bagian "otak", kedua seri tersebut menggunakan prosesor Intel terbaru, yakni Intel Atom X3-C3230RK (arsitektur Sovia) berkecepatan 1 GHz quad-core 64-bit. 

Kelengkapan lain dari ZenPad C 7.0 adalah RAM 1 GB, media penyimpanan internal 8 GB, dukungan kartu micro SD hingga 128 GB, kamera depan 0,3 megapiksel, kamera belakang 2 megapiksel, dukungan dual-SIM card di jaringan 3G, dan baterai 3.450 mAh.

Sementara itu, ZenPad 7.0 dibekali RAM 2 GB, media penyimpanan internal 16 GB, dukungan kartu Micro SD hingga 64 GB, kamera depan 2 megapiksel, kamera belakang 5 megapiksel, dual-SIM card di jaringan 3G, dan baterai 3.450 mAh.

Keduanya berjalan di sistem operasi Android 5.0 yang dipercantik dengan tampilan antarmuka Zen UI.

ZenPad C 7.0 akan dijual dengan banderol harga Rp 1,8 juta dan ZenPad 7.0 memiliki label harga Rp 2,2 juta. Keduanya akan tersedia dalam waktu dekat ini di Indonesia.


Senin, 24 Agustus 2015

Ini Cara Agar Batre smartphone Kalian Bisa 4x Lebih Tahan

Batre

Wang Changan dari Universitas Tsinghua, Beijing dan Li Ju dari Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, menemukan sebuah teknologi baru yang bisa membuat baterai lebih awet. Bahkan baterai diperkirakan bisa dipakai empat kali lebih lama.

Meskipun disebut tahan lebih lama, ini bukan berarti baterai tersebut bisa terus-terusan mengalirkan daya lebih besar dari kapasitasnya saat ini. Teknologi yang dimaksud sebenarnya membuat baterai dapat terus digunakan, kalau sebelumnya setahun sudah rusak maka ini membuatnya jadi tahan dipakai selama empat tahun.

kedua peneliti tersebut menemukan teknologi ini secara kebetulan. Awalnya mereka cuma mencari tahu cara mengupas lapisan oksidasi pada nano partikel alumunium.

Saat sedang belajar, merea justru menemukan cara untuk melindungi nano partikel itu dengan lapisan titanium oksida, sebuah bahan penghantar listrik. Hasilnya berupa alumunium oksida yang terlindung dalam lapisan titanium oksida. Bahan tersebut bisa dipakai sebagai pengganti anoda berbahan grafit.

Grafit sendiri sebenarnya sudah lama digunakan sebagai anoda dalam baterai. Biasanya, bahan ini akan melebar dan berkontraksi untuk menghantarkan ion lithium.

Sayangnya, proses alami itu justru mengakibatkan kualitas baterai berkurang. Kapasitas maksimumnya pun turut mengecil seiring usia penggunaan, hingga paling parah, baterai akan mati.

Nah, lapisan titanium oksida yang ditemukan oleh kedua peneliti itu lebih kuat menahan siklus alami tersebut. Lapisan temuan mereka tidak akan rusak sehingga umur baterai lebih panjang.

Sayangnya hingga kini tak diketahui kapan teknologi tersebut bisa diterapkan pada smartphone atau perangkat genggam lain. Jika sudah tersedia, mungkin saja baterai ponsel jadi jarang rusak.

Jumat, 07 Agustus 2015

Mulai 2016 Semua Vendor Ponsel Diwajibkan Rakit Ponsel di Indonesia

Handphone

Sejumlah merek ponsel yang beredar di dalam negeri terancam tak lagi bisa beredar, bila importir dan produsen merek tersebut tak menanamkan investasinya di Indonesia.

Pemerintah memberi waktu hingga Februari 2016 bagi mereka, untuk segera merealisasikan investasinya merakit atau lebih baik lagi proses manufaktur atau produksi.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika, Kementerian Perindustrian, Ignasius Warsito mengatakan, sesuai dengan ‎Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 38 Tahun 2013, tentang Ketentuan Impor Ponsel, Handheld, dan Tablet, importir terdaftar (IT) wajib menanamkan investasi dalam bentuk apapun di Indonesia, termasuk merakit ponsel.

"Mereka sudah berkomitmen untuk merakit di sini. Istilahnya investasi, dalam bentuk apapun. Tak harus bangun pabrik, bisa juga design house, research and development di sini. Jatuh temponya dalam 3 tahun, yaitu Februari 2016," tutur Warsito.

Jika komitmen tersebut dilanggar, maka merek-merek tersebut tak‎ bisa beredar di Indonesia. "Nanti otomatis akan kesetop sendiri. Dia kan nggak bangun (perakitan), berarti dia nggak mau. Otomatis impornya pun akan kesetop sendiri. Tapi kalau impor boleh seperti untuk uji pasar, tapi tidak lebih dari setahun," tutur Warsito.

Ketentuan tersebut berlaku untuk seluruh importir merek ponse‎l yang masuk ke Indonesia. Nantinya juga, pemerintah bakal mengarahkan importir-importir yang jumlahnya cukup banyak, termasuk distributor tersebut untuk hanya memegang satu merek saja.

Tujuannya adalah agar pengawasan terhadap IMEI atau nomor ponsel lebih jelas, dan mengurangi beredarnya ponsel ilegal.


Minggu, 26 Juli 2015

Blackberry Akan Fokus Ke Bisnis Software

Blackberry
Bentuk nyata dari pernyataan itu kini sudah semakin terlihat, BlackBerry menyatakan bakal mengurangi jumlah peluncuran perangkat setiap tahunnya.

Menurut CEO BlackBerry John Chen, biasanya perusahaan asal Kanada ini merilis setidaknya empat seri smartphone setiap tahunnya. Pada strategi barunya, jumlah peluncuran tersebut akan menurun, setidaknya menjadi dua hingga satu seri saja.

Di tahun 2015, BlackBerry sudah merilis satu seri smartphone bernama Leap. Jadi, masih ada kemungkinan perusahaan tersebut akan merilis satu perangkat lagi.

Belakangan ini, desas desus yang berkembang menyebutkan, BlackBerry sedang mengembangkan smartphone berbasis Android. Perangkat itu dikatakan bakal memiliki desain slide, gabungan antara layar sentuh dan keyboard fisik.

Selain itu, perangkat yang dikatakan memiliki nama kode Venice ini bakal menggunakan Android versi penuh, bukan modifikasi.

Rumor tersebut dibumbui dengan pernyataan CEO Blackberry John Chen yang mengatakan mereka bisa saja membuat ponsel bersistem operasi Android asalkan keamanannya terjamin. 

Sekitar awal bulan ini, Blackberry baru saja bergandengan tangan dengan Google. Mereka membentuk kerjasama yang mengombinasikan keamanan Android 5.0 dengan kemampuan manajemen Blackberry Enterprise Service (BES) 12. Tujuan utamanya mengamankan data-data bisnis yang dikirim melalui ponsel Android.

Rabu, 18 Februari 2015

Asus Akan Tinggalkan Android Wear



Tren penggunaan wearable devices yang bakalan ramai di tahun 2015 mengundang daya tarik Google untuk menghadirkan sebuah sistem operasi khusus. Android Wear dilahirkan perusahaan raksasa pencarian online itu untuk mengantisipasi meledaknya industri wearable devices.

Asus ikut bergabung sebagai perusahaan yang menggunakan sistem operasi Android Wear untuk wearable device buatannya. Smartwatch bernama ZenWatch telah diperkenalkan dan berjalan di atas sistem operasi Android Wear.

Namun, perusahaan itu telah mengumumkan bahwa di masa depan Asus tak akan lagi menggunakan Android Wear di smartwatch besutannya. Faktor daya tahan baterai disebutkan jadi alasan Asus untuk meninggalkan Android Wear.

Vendor gadget asal Taiwan itu mengaku proses pelucutan Android Wear akan dilakukan secara bertahap. Jerry Shen selaku CEO Asus menyebutkan perusahaannya masih akan menggunakan Android Wear untuk ZenWatch generasi kedua.

Akan tetapi, perusahaan itu berencana melakukan perubahan terkait sistem operasi di perangkat jam tangan pintar buatannya. Penggunaan Android Wear di ZenWatch generasi kedua ditengarai karena Asus masih terikat kontrak dengan pihak Google.

Daya tahan baterai disebut-sebut sebagai masalah utama di wearable device ynag memakai Android Wear. Sistem antarmuka yang ada di platform mobile khusus wearable devices itu dinilai terlalu rakus daya baterai, selain spesifikasinya yang menyerupai smartphone.

"Perhatian utamanya ialah tentang penghematan daya. Kami akan memiliki smartwatch lain yang tidak berbasis Android Wear dan memiliki fitur baterai yang tahan lebih lama," ungkap Shen seperti dilansir laman Focus Taiwan, Senin (16/2/2015).

Zenwatch generasi pertama dipasarkan Asus dengan harga yang cukup bersaing dengan produk Samsung, Motorola maupun LG yang sama-sama membuat smartwatch berbasis Android Wear.

Di kampung halamannya, Zenwatch dilepas NT$ 5.990 atau sekitar Rp 2,4 jutaan. Jam tangan ini dibekali layar sentuh AMOLED 1,63 inci yang didesain melengkung, prosesor Snapdragon 400 berkecepatan 1,2GHz, RAM 512 MB, memori internal 4GB serta dilengkapi 9 sensor.